Rahma, Salah Satu Korban Konflik yang Tak Berujung.
Si kecil Rahma adalah salah satu korban dari konflik isu keragaman di Indonesia. Anak kelahiran Bangka Belitung 19 Februari 2005 ini adalah buah dari pernikahan Jamaluddin Fe’eli dan Mariamadalena. Berlatar belakang ayah sebagai Muballiq dari organisasi Ahmadiyah di Sulawesi Selatan, membuatnya turut merasakan konflik yang terjadi di tengah masyarakat saat ini. Status dalam keluarga sebagai anak tunggal membuat dirinya begitu dicintai dan disayangi oleh orang tuanya.
Tampak wajah lugu nan ceria dari anak berusia 6 (enam) tahun yang kini menimba ilmu di salah satu Sekolah Dasar di kota Makassar. Dengan sekali senyuman terasa terkuak empati yang begitu dalam akan posisi yang tidaklah etis untuk seorang anak yang belum mengetahui permasalahan yang begitu rumit. Sikap pemalu di awal jumpa berubah terasa hangat di saat sapaan kian membuka diri untuk saling bekenal satu sama lain.
Mariadalena selaku ibunda dari si kecil Rahma menyatakan bahwa, dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitar rumah jamaah ahmadiyah tidak ada sedikitpun diskriminasi, seperti yang diungkapkan oleh banyak orang tentang keberadaan organisasi tersebut. Begitu pula dengan aktivitas anaknya, yang berjalan sama seperti anak pada umumnya, akan tetapi sifat pemalu membuat aktivitas di luar rumah anaknya hanya sedikit.
Penjelasan tersebut juga dikuatkan oleh pandangan masyarakat sekitar yang telah melihat dan merasakan bagaimana perilaku keseharian jamaah ahmadiyah, terutama menyangkut ritual keagamaan. Pak Kumis merupakan salah satu tetangga di lingkungan tempat tinggal jamaah ahmadiyah, menyatakan bahwa cara beribadah mereka sama seperti umat islam pada umumnya. mereka melaksanakan sholat lima waktu,membaca kitab suci a-lquran dan mengucapkan dua kalimat syahadat yang sama. selain itu di jelaskan juga bahwa mereka berprilaku baik dalam interaksi sosial dengan masyarakat sekitar.
Lain halnya pada saat Rahma berada di lingkungan sekolah, Walaupun pandangan masyarakat terutama orang tua murid dan teman-temannya di sekolah sudah minus pada organisasi ahmadiyah ini, tidak terjadi perubahan yang signifikan akan prilaku mereka baik dengan jamaah ahmadiah itu sendiri, maupun jamaah lainnya. Malahantidak banyak dari mereka terkejut, melihat apa yang diberitakan oleh beberapa media yang kebanyakan menyudutkan mereka tidak sesuai dengan fenomena yang ada, semua tuduhan tersebut kata jamaah ahmadiyah tidaklah benar.
Dari permasalahan tersebut terdapat hal yang sangat bertentangan akan keberadaan ahmadiyah di Indonesia, di saat berada di lingkungan sekolah, rahma mampu posisikan dirinya sebagai orang yang nomor satu dikelasnya, sikap minder tidak tampak sedikitpun dari dirinya, ini dibuktikan dari penjelasan ibunya, bahkan ia pernah mendapat juara mengaji dan hafalan surah pendek yang diadakan di sekolahnya. Bukan hanya itu, kecerdasan serta keaktifannya dalam kelas tidak membuatnya merasa berbeda akan latarbelakang yang dibekali dari keluarga sebagai pengikut organisasi ahmadiyah.
Akan tetapi semenjak konflik keragaman itu muncul, kondisi yang sebelumnya kondusif berubah menjadi pitam. Rumah jamaah ahmadiyah menjadi pelampiasan oknum tidak bertanggung jawab. Mereka tidak berfikir di dalam rumah jamaah tersebut terdapat keluarga, di mana salah satu di dalamnya adalah anak-anak mereka. Etiskah ketika anak lugu yang tidak mengetahui apa-apa itu merasakan yang namanya teror dan kekerasan yang berujung perusakan. Biarlah hati nurani dan pikiran kita yang menjawabnya.
Rahma adalah salah satu dari sekian banyak anak jamaah ahmadiyah yang mengalami perubahan psikis yang begitu besar di saat setelah konflik. Yang dulunya pendiam, periang, dan sabar kini berubah menjadi lebih sensitif bahkan galak dengan anggota keluarganya. Menurut Ibunya, Rahma menjadi seperti itu di karenakan tekanan dan pengalaman dirinya sewaktu jamaah ahmadiyah di demo oleh Oknum yang bertanggung jawab. Hal yang sama juga dirasakan oleh anak Pak Dede salah satu jamaah yang penulis wawancarai mengatakan hal yang tidak jauh berbeda.
Tidakkah negeri ini mengajarkan kita untuk bermusyawarah, saling menghormati dan menjunjung tinggi hak-hak dasar manusia. Tidakkah agama yang kita pegang mengajarkan kita untuk hidup rukun, toleransi dan berempati satu sama lain. Tapi ada saja oknum yang mengatas namakan agama daalm melakukan aksi yang tidak selayaknya dilakukan oleh sesame manusia.
Apakah perusuh mengetahui apa akibat yang akan muncul bilmana keragaman itu di salah artikan. Tidak adakah hati nurani mereka di saat bogem mentah dan lemparan batu bersarang di muka dan kediaman sesama ciptaan Tuhan. Apa hak kita untuk merusaknya, tidak bisakah kita merundingkan dan mencari solusi bersama dengan pemimpin yang arif. Di manakah orang yang mengatakan pemimpin tiap-tiap agama. Ayolah orang-orang terhormat bantu ummatmu untuk tidak tergelincir akan isu keragaman yang berujung konflik. Bukan malah memperkeru keadaan.
Semoga konflik di negeri kita ini dapat berkurang dan hilang dengan kerukunan, doa dan berikhtiar di jalan Tuhan Yang Maha Esa. Isu keragaman yang mencuat selayaknya di bicarakan dengan kepala dingin tentunya dalam bingkai toleransi yang memperhatikan hak-hak dasar manusia seutuhnya. Cobalah mengingat kebaikan seseorang, tuk melupakan kejelekannya dan sering-seringlah mengatakan kebaikan seseorang tuk melupakan kejelekan dirinya dan diri kita sendiri.
Peserta Workshop Sejuk

1 komentar:
mantap tulisannya...jadi ingat waktu dibuat....kapan yah bisa kumpul bareng lagi nak sejuk?
Posting Komentar