Ku
teringat di kala malam membawaku berjalan ke suatu tempat, berdua dengan
pendongeng handal yang sampai saat ini menjadi orang paling berharga dalam
hidupku. Ia adalah Ibuku.
Sosok
yang membuatku terdiam dan sekali tertawa dengan candaan yang ia contohkan dalam
kekonyolan sebuah cerita dongeng tentang si kancil dan buaya.
Tentulah
cerita ini tidak asing ditelinga kita. Siapa yang tidak kenal kancil yang
cerdik tapi fisik yang kecil? Siapa yang tidak kenal buaya yang kuat tapi
bodoh? Walau hanya sebuah cerita dongeng. banyak hal yang ku dapatkan dari
cerita itu.
Cerita
yang menggambarkan sosok kancil dan buaya yang saling bermusuhan satu sama
lain. Kekuasaan yang dimiliki buaya di area kekuasaannya, termakan oleh tipu
daya si kancil yang dengan cerdik mengelabuinya, hingga kancil pun lolos kemudian merajalela di setiap wilayah.
Ku
berfikir sejenak, ada yang mengganjal dalam ingatku, ternyata cerita si kancil
dan buaya di atas hampir sama dengan cerita Indonesia hari ini.Terumpamakan
Kancil selaku negara adidaya, dan buaya selaku negara Indonesia. Selanjutnya silahkan dikembangkan.
Dari
Sabang sampai Merauke berjejer pulau-pulau, bertabur sumber daya alam, ribuan
adat istiadat menggemah karena keunikannya, sumber daya manusia lumayanlah, sarana dan prasarana cukup menjanjikan, lapangan pekerjaan cukup luas,
bencana sudah sigap dihadapi, kesejahteraan mulai terjamin, konflik sudah
meredah, kesediaan energi sudah berstandar Internasional, transportasi lumayan baik, hukum sudah tegak
berdiri, pemerintah sangat setia menemani rakyat dan masih banyak lagi.
Apakah seperti itu Indonesia yang
kita kenal hari ini? Apakah Indonesia sudah menjadi seperti yang kita harapkan?
Cerita Indonesia saat ini menurut anda seperti apa? Silahkan dijawab sendiri,
dan renungkan.
Dari berbagai hal yang telah terpaparkan
sebelumnya, diriku tidak ingin membahas semua atau salah satu bagian dari itu. Diriku lebih suka
membahas bagian sangat penting yang
sedikit demi sedikit hilang di tengah-tengah kehidupan rakyat Indonesia.
Padahal bila di perhatikan dengan seksama, inilah karakter rakyat Indonesia di
mata dunia. Karakter itu, banyak mengenalakan orang banyak tentang Indonesia
sesungguhnya. karakter itu antara lain:
Cium Tangan Orang Tua
Dulu sewaktu kecil, orang tua kita mengajarkan cium tangan
atau biasanya disebut “salim“. Bila di semasa saya, hal ini merupakan kewajiban anak kepada orang tua
disaat ingin pergi ke sekolah atau berpamitan ke tempat lain. Sebenarnya hal
ini penting, selain menanamkan rasa cinta kita kepada orang tua, cium tangan itu sebagai tanda hormat dan
terima kasih kita kepada mereka.
Akan tetapi lambat laung semua memudar, rasa cinta, hormat, dan terima kasih
seorang anak sangat jarang terlihat. Mengapa? inilah dampak perubahan zaman
yang semakin menjauhkan yang dekat, semakin mendekatkan yang jauh.
Sudahkah kalian mencium
tangan orang tua hari ini?
Senyum dan Sapa
Aku teringat sebuah film Hollywood yang dibintangi oleh
aktris papan atas dunia, Julia Robert. Semasa hidupannya di Indonesia, ia
sangat tersanjung dengan senyum dan sapa masyarakat sekitar yang ramah dan
sopan santun. Setiap ia bertemu dengan masyarakat Indonesia senyum dan sapa itu
selalu ada disetiap langkah kakinya bergerak, walaupun tidak saling mengenal
satu sama lain. Inialah karakter Indonesia pintahnya, sangat jauh berbeda dengan kata orang
lain yang memojokkannya.
Dulu citra bangsa Indonesia identik dengan ramah tamah dan murah senyum.
Jadi, jangan sampai hilang
kawan, tak ada ruginya bila
senyum dan sapa itu terucap dan tertanam dalam diri kita, toh juga bermanfaat bagi diri sendiri asal jangan berlebihanlah. Karena ku yakin, senyum itu ibadah dan sapa itu menambah keakraban
dengan sekitar kita.
Musyawarah
Satu lagi budaya
yang sudah jarang ditemukan khususnya di kota-kota besar
Indonesia. Kebanyakan penduduk di kota besar, hanya mementingkan egonya masing-masing,
pamer inilah itulah, mau jadi pemimpin kelompok ini itu, dan bahkan suka main hakim sendiri. inilah
cerminan Indonesia hari ini, yang tentunya harus dikikis dan diminimalisir.
Lain di kota lain di desa, bukannya diriku memojokkan salah satunya, tapi inilah yang terjadi hari ini, lihat saja desa-desa yang terpinggir dan kampungan
kata banyak orang. Mereka masih
menggunakan musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan, sehingga mereka dapat hidup tentram dan saling percaya, tidak ada yang namanya saling sikut dan menjatuhkan,
semua perbedaan diusahakan secara musyawarah dan mufakat inilah
Indonesia.
Melihat hal di atas, apakah ini yang dinamakan kampungan? Saya rasa yang main
hakim sendiri, otoriter yang berujung saling menjatuhkan, saling sikut menyikut
karena kekuasaan mungkin lebih pantas di katakana kampungan. Mereka tidak
berfikir bahwa tindakannya bisa merusak karakter bangsa yang selama ini
dibangun dan diperjuangkan oleh pendahulu kita. Jadi sebaiknya Anda yang ‘masih’ merasa muda harus melestarikan budaya ini
demi keberlangsungan negara Indonesia yang tentram dan cinta damai.
Gotong Royong
“Itu
bukan urusan ku“, “Apa
untungnya buat saya?“, “emang
gue pikirin!!”. Itu beberapa peryataan yang sering kita dengar ketika
berada di lingkungan sekitar kita. Banyak orang yang hanya melihat saudarahnya melakukan kerja bakti bersama, tidak ada rasa tenggang rasa untuk langsung membantu tanpa diminta. Mana gotong royong yang dibangun oleh pendahulu kita semasa
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia? Apakah sudah hilang? Ataukah terbawa
angin lalu oleh sikap egois diri kita sendiri? Jawablah dalam hati.
Ada apa dengan
kalian? Generasi muda,
kini mulai termakan oleh sifat malas yang mendekatkan dirinya pada kebodohan.
Sudah ku tekatkan dalam diri untuk senantiasa menciptakan rasa simpati dengan membantu sesama,
karena dengan kebiasaan seperti inilah bangsa kita bisa merdeka.
Ingatkah saat masa penjajahan, tidak
ada perasaan curiga, semangat
rela berkorban terjaga, dan itulah yang membuat kita kuat.
Kurindukan karakter
bangsa yang menjadikan kita kuat dan dikenal seantero dunia ini. Karakter yang
terus-menurus ditularkan dalam bentuk semangat perjuangan yang akan memperkuat
setiap langkah kehidupan bangsa ini. Aku salah satu dari jutaan generasi muda
RI rela berkorban untuk terus melestarikan karakter bangsa dan menjadi
paling Indonesia di negeri Garuda tercinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar