Jumat, 09 Desember 2016

SEMEN TONASA JAGA BATAS NKRI


TAHUN 2013 jadi sejarah hidup bagi 54 mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang mengabdikan diri di perbatasan paling utara Indonesia. Penulis salah satunya, pertama kali menginjakkan kaki serasa mimpi, bayangkan empat hari tiga malam di atas kapal perintis dari Pelabuhan Bitung ke Pulau Miangas teramat menantang. Siang begitu panas, malam begitu dingin, ombak yang terlihat biasa-biasa saja seketika meninggi, menghantam dinding kapal hingga bergoyang. Tidak lama kemudian, hujan disertai angin kencang mengikuti, sungguh menakutkan. Penyesalan pun terlitas dalam benak. Kenapa penulis memutuskan untuk mengambil program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Perbatasan Gelombang 85 di Pulau Miangas itu? Hari berganti hari, bulan berganti bulan, semua penyesalan kala itu pun hilang dengan sendirinya.

Kala malam tiba, terasa begitu dingin, tak seperti pagi yang sungguh menyengat apalagi siang. Tiap malam derai ombak tak hentinya menggema, mengusik tidur nyenyak sehabis beraktivitas padat. Maklum, pagi hingga malam hari, mahasiswa KKN dihadapkan pada program kerja (proker) yang pada. Sebut saja, megajar anak sekolah dasar cara berhitung dan mahir berbahasa Inggris, menerawang posisi kampung halaman mereka di peta buta yang lucunya tak terlihat mungkin terlupa, hingga menggiatkan gosok gigi dan cuci tangan untuk kesehatan tubuh mereka.
Tidak lupa mengajarkan sedikit pemahaman jurnalistik. Maklum, penulis dan beberapa mahasiswa yang ikut KKN perbatasan ini merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi. Selain mengajarkan cara menulis berita yang baik. Penulis juga mengajarkan fotografi. Ada tiga puluhan siswa SMK 1 Talaud, Desa Miangas yang belajar cara memotret. Kamera yang penulis miliki digilir, sebagai praktik dan alhamdulillah hasilnya cukup memuaskan.
Berbicara tentang Miangas, dari beberapa literarut yang penulis dapatkan, Miangas merupakan pulau terluar Indonesia yang terletak di dekat perbatasan Indonesia dengan Filipina. Pulau ini termasuk di wilayah Desa Miangas, Kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Indonesia. Uniknya, bila melihat peta buta, Pulau Miangas lebih dekat dengan Filipina, butuh waktu dua jam untuk sampai di selatan negeri mantan petinju dunia Manny Pacquiao itu. Sedang untuk sampai di pulau terdekat Indonesia, butuh waktu 12 jam dengan kapal perintis yang hanya sekali seminggu menepi di dermaga tua yang dangkal kala matahari menyinari.
Luas area Pulau Miangas sendiri lebih kecil dari Universitas Hasanuddin, kampus penulis. Hanya 3,15 kilometer bujursangkar. Begitupun penduduknya, pada 2013 lalu hanya dihuni 49 kepala keluarga. Mayoritas penduduk di sana beragama Protestan, selebihnya beragama Islam, namun itu bukan penduduk asli melainkan pendatang. Beberapa TNI Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Darat (AD) bermukim di sana, ada yang sudah lima tahun, bahkan ada yang sudah 10 tahun hingga membangun sebuah musala tempat mereka beribadah.
Mata pencarian masyarakat di Miangas selain sebagai nelayan, juga menumbuhkembangkan ratusan pohon kelapa yang buahnya dijadikan kopra, yang nantinya di jual ke luar pulau. Beberapa hasil laut seperti taripang, ikan kering, dan cakalang asap tak lupa dijajahkan seminggu, dua minggu, bahkan seminggu sekali ke Bitung dan Menado bila cuaca tidak bersahabat. Normalnya, kapal perintis merapat sekali seminggu.
Terletak di laut lepas, membuat derai ombak begitu besar menghantam daratan Miangas tanpa henti. Tak ayal sedikit demi sedikit pulau bekas jajahan Hindia Belanda itu mulai terkikis. Tidak ada pohon mangrove dan tanggul penghalang ombak yang kokoh di baris depan. Daratan sepanjang pulau seakan pasrah dipecah sedikit demi sedikit, jadi bitiran pasir yang lama-kelamaan tinggal kenangan.
Pulau Miangas merupakan batas negara paling utara Indonesia, bila lenyap tentu mempengaruhi luas teritorial Indonesia. Bayangkan saja, Pulau Miangas hanya berjarak 48 mil dari Filipina, sedangkan jarak ke Kecamatan Nanusa, Indonesia (pulau terdekat) hampir empat kali lipatnya, 145 mil.
Salah sedikit bisa menciutkan batas wilayah negeri ini. Belum lagi ancaman terbesar bagi keutuhan wilayah Indonesia seperti perubahan iklim yang banyak didengungkan Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) yang katanya mampu melenyapkan 3.000 pulau. Miangas masuk dalam jajaran ribuan pulau yang bakal lenyap.
Bahkan, dilansir portal resmi (KP3K), Direktur Pemberdayaan Pulau-pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Alex SW Retraubun menjelaskan, pulau bertipe daratan rendah merupakan yang paling terancam lenyap akibat kenaikan muka laut. Ketinggian daratan pulau bertipe ini hanya berkisar satu meter. Selama ini pulau tersebut juga paling rawan terhadap bencana alam seperti topan dan tsunami.
Ini dipertegas dengan survei yang dilakukan DKP pada tahun 2007 menunjukkan, telah terjadi kenaikan permukaan laut di beberapa wilayah perairan di Indonesia, yaitu di Pulau Jawa 15 milimeter (mm) per tahun, di Laut Timor dan Sulawesi 19 mm dan 16 mm per tahun. Adapun kecenderungan kenaikan di Laut China Selatan 17 mm per tahun.
Tahun 2007, kenaikan permukaan laut di Pulau Sulawesi mencapai 15 milimeter. Lalu bagaimana 2016? tentu semakin naik. Lalu bagaimana solusinya? Menghadapi naiknya permukaan laut akibat pemanasan suhu global itu, Alex mengemukakan beberapa rekomendasi, yaitu melakukan revitalisasi tutupan vegetasi pada pulau-pulau kecil hingga mencapai minimum 40 persen dan maksimum luasan infrastruktur adalah 30 persen.
Dalam hal ini pohon mangrove dipilih karena merupakan tumbuhan yang dapat menahan erosi akibat gempuran ombak. Selain itu perlu ditingkatkan tutupan karang hidup dan kegiatan ekonomi penduduk berbasis kelautan yang ramah lingkungan. Juga diperlukan pencanangan program migrasi penduduk dari pulau berdataran m./rendah ke pulau dengan elevasi lebih dari 5 meter. Hal ini juga terkait dengan program migrasi mandiri secara bertahap dalam kurun waktu 50 tahun mendatang.
Namun yang tidak kalah penting menurut penulis juga yakni, pembangunan tanggul di sepanjang pesisir pantai. Pembangunan tanggul menjadi program jangka panjang yang tidak bisa diselesaikan selama satu tahun. Pada 2013 lalu, sisi timur Miangas yang dikerjakan dan kala itu sudah rampung. Tahun 2016 menurut, Jung Muhammad Asad, Alumni KKN Perbatasan di Miangas yang Agustus lalu mentar angkatan keempat ke sana menuturkan pembangunan tanggulnya sudah hampir rampung.
Miris, namun itulah faktanya. Lantaa (55 tahun), Sekretaris Desa Miangas yang rumahnya rela diinapi penulis, bercerita sebuah peristiwa yang mengenaskan dan masih menghantuinya. "Rumah saya pernah dihantam air laut. Tiga kali mungkin, ombak menghantam dan hancur temboknya. Air naik ke permukaan, kebetulan itu hari hujan terus mengguyur, daratan pun tenggelam. Kita mengungsi di Gudung Keramat (dataran tinggi)," kata lelaki berkacamata itu.
Banjir memang sudah biasa, lanjut dia, namun ombak serasa kian kuat dan semakin tinggi tiap tahunnya. "Lebih tinggi dibandingkan yang dulu. Tetapi untung pembangunan tanggul permanen sudah dilakukan," bebernya.
Tanggul permanen yang kuat dan kokoh sangat diperlukan di Miangas. Tidak lagi bergantung pada tumpungkan karung pasir yang sifatnya hanya sementara. Pembangunan tanggul permanen pun butuh teknik dan strategi jitu, tidak boleh asal. Mengingat kokohnya tanggul bisa meminimalisir terjadinya abrasi atau pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Bila abrasi ini terjadi, kondisi tersebut bisa mengancam ratusan warga yang sebelumnya terdampak banjir rob akibat jebolnya tanggul tersebut.
Lantaa dan seluruh masyarakat Miangas tidak ingin kejadian yang menimpanya beberapa tahun lalu terulang kembali. Banjir membuat dinding rumah dari kayu rusak, ternak babi miliknya sakit lalu mati, kopra yang dijemur basah dan membusuk, pengungsi bergerak ke Gunung Keramat (dataran tinggi satu-satunya di Miangas) dengan logistik seadanya, belum lagi serangan penyakit yang memperparah keadaan. "Itu mimpi buruk, semoga dengan adanya tanggul permanan kerjadian itu tidak terulang lagi," tukasnya.
Selain pasir, kerikil, dan kerangka besi, bahan pembuatan tanggul permanenen tentu menggunakan semen. Penulis tidak menyangka, semen yang digunakan dalam pembuatan tanggul permanen di Miangas adalah Semen Tonasa. Penulis pun bertanya-tanya, mengapa semen yang diproduksi di Sulawesi Selatan tersebut bisa sampai di pulau terluar seperti di Miangas, Sulawesi Utara.
Jujur, penulis mengira distribusi Semen Tonasa hanya di Sulawesi Selatan dan Barat saja. Namun paradigma itu berubah setelah melihat dengan mata kepala sendiri, Semen Tonasa berlayar ke pulau paling utara Indonesia dengan Kapal Meliku Nusa menyebrangi delapan pulau. Hingga sampai di Miangas dan menjadi campuran penting dalam pembuatan tanggul permanen yang melindungi daratan dari terjangan ombak.
Setelah melihat di situs resminya, ternyata saya keliru. Distribusi Semen Tonasa tidak hanya di Sulselbar saja, melainkan seluruh Pulau Sulawesi, Pulau Kalimantan Pulau Maluku Pulau Papua, Pulau Jawa, Nusa Tenggara, hingga Bali. Sebut saja, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah.
Penulis pernah bertanya kepada salah satu buruh yang tinggal di Miangas dan dipekerjakan pada proyek pembangunan tanggul permanen tersebut. Namanya Jason Manus (59 tahun), ia mengaku di antara beberapa semen yang ada, Semen Tonasa masih jadi pilihan. "Kalau pakai yang lain belum tentu kuat betonnya. Saya juga pakai Semen Tonasa di rumah," terang Kakek yang nyambi sebagai nelayan itu.
Betonisasi yang kuat pada pembuatan tanggul permanen di Miangas tentu membawa angin segar bagi masyarakat sekitar. Ancaman banjir dan terkikisnya daratan secara terus menerus akan sedikit demi sedikit berkurang. Secara tidak langsung, Semen Tonasa ikut andil dalam menjaga batas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dikarenakan material Semen Tonasa menjadi salah satu pilihan dan penting dalam pembuatan betonisasi yang kokoh.
Tidak hanya itu, mahasiswa KKN Miangas Unhas memiliki satu program kerja yakni pembuatan Prasasti Adat Miangas. Penulis mengucapkan terima kasih kepada PT Semen Tonasa atas bantuan berupa 100 sak semen dalam membantu program kerja mahasiswa KKN Perbatasan Unhas yang tidak hanya diperuntukkan untuk pembuatan prasasti saja, namun beberapa perbaikan sarana olahraga baik lapangan voli dan basket yang beberapa ruas lapangan lubang setinggi 2-3 cm, dan beberapa rumah warga yang kurang representatif..
Pembangunan tanggul permanen yang terealisasi, juga dapat dimanfaatkan untuk sarana wisata masyarakat. Misalnya untuk jogging track, tenda kuliner, dan berbagai kegiatan masyarakat. Hal ini menjadi salah satu hiburan bagi masyarakat yang bosan dengan penatnya rutinitas yang itu-itu saja. Bisa juga dijadikan spot foto yang bagus, apalagi penataannya terlihat baik dan rapi. berbaris membentuk anak tangga layaknya sengkedan di persawahan.

Tidak ada komentar: