"Berikan aku 1000 anak muda maka aku akan memindahkan gunung,
tapi berikan aku 10 pemuda yang cinta akan tanah air maka aku akan menguncang
dunia," tutur Bung Karno, prolamator yang juga mantan presiden RI.
Sengaja diriku mengutip
kata-kata sang revolusioner sejati bangsa ini di awal paragraf, tidak lain
hanya untuk menggebuhkan jiwa pemuda yang saat ini terserang virus galau (berada
antara dua pilihan yang tidak jelas). Maaf sebelumnya, tidak semua pemuda
terkena virus ini, tapi kebanyakan ia. Mengapa ini bisa terjadi?
Saat ini sangat jarang kita
temukan pemuda yang rela mengorbankan dirinya untuk bangsa dan negara, buktinya
saja bukannya memelihara sarana dan prasarana yang bersifat umum, melainkan
merusaknya dengan semenah-menah. Bukannya memberi masukan dan sumbangsi untuk
kemajuan bangsa, malah membuat kekacauan dengan tuntutan yang tidak
terorganisir.
Sebenarnya saya tidak menyalahkan
pemuda, karena kalau saya menyalahkan mereka, maka saya juga salah, soalnya
saya bagian dari pemuda itu. Tapi maukah kita mengaku pemuda, bila banyak orang
yang menjuluki kita perusak, tukang rusuh, tukang tauran ataukah pemuda brutal.
Kembali pada diri kita masing-masing.
Sedikit menganalogikan,
kata-kata yang dilontarkan Bung Karno di awal paragraf, sangat menyinggung pemuda
saat itu, mengapa? lihat saja pemuda yang begitu berjasa di zaman perjuangan
lalu, yang sampai saat ini dianggap tangguh dan sangat tanah airnya. hanya
beberapa yang masuk kategori itu, apalagi kita yang saat ini kebanyakan acah tak acuh dan selalu menyombongkan diri.
Masa yang diriku alami saat ini
dinamakan masa muda, maklumlah diriku masih berumur 21 tahun. Masa muda adalah masa transisi dimana
kita beradaptasi dari masa remaja ke masa pendewasaan. Jadi dimaklumi bila
salah, tetapi jangan salah terus.
Pemuda menurutku adalah generasi yang akan melanjutkan tongkat estapet
bangsa ini. Dengan visi dan misi negara indonesia yang bisa kita katakan harta
karun negara yang harus ditampung dan didengarkan aspirasinya oleh semua orang.
Biasanya pemikiran pemuda
cenderung kritis, memiliki gagasan yang fresh,
dan daya kretivitasnya sangat tinggi. Namun, karena emosi yang cenderung labil memungkinkan
pemuda lebih gampang naik darah alias emosional.
Apakah ini yang akan meneruskan
bangsa ini? Diriku sangat respek dengan sebuah iklan rokok yang memperlihatkan
betapa kurang dipercayanya seorang pemuda memimpin sebuah perusahaan.
Kepercayaan untuk memimpin perusahaan sangat sulit diberikan kepada mereka yang
sangat minim jam terbang, miskin pengalaman, dan kaya emosi.
Apakah itu betul? Bagaimana
dengan pemuda yang sudah memiliki pengalaman dan mampu meredam emosi yang
tentunya mampu menduduki suatu jabatan? Tentu belum cukup, masih ada umur, umur
kita belum cukup menduduki kursi jabatan itu. Yah lupakanlah
mimpi itu.
Menurut buku yang pernah aku
baca berjudul Pemuda
Berbicara karya Ero Herlambang, Secara ideal pemuda
menurut beliau adalah seorang individu manusia yang telah memasuki masa
produktif. Seorang pemuda biasanya sudah memiliki pendirian tersendiri tentang
apa yang ada di sekitarnya. Dengan kata lain, pemuda adakn bereaksi jika ada
yang aneh pada lingkunganya.
Melihat kondisi hari ini, dengan
zaman yang lebih memalaskan kita untuk bergerak dan berfikir, masih sanggupkah
kita seideal itu? Karena yang ada hari ini menjebak kita untuk hidup komsumtif,
berego yang tinggi, tidak memikirkan sosial sekitar, bahkan terjerumus dalam
dunia global yang kurang siap kita hadapi.
Pemuda zaman sekarang kurang
mendapatkan sosialisasi tentang globalisasi dan pergaulan. Kurang kuatnya
sosialisasi akan rasa ingin mencoba dari seorang pemuda semakin kuat. Contohnya
saja tentang narkoba, jika tidak adanya sosialisasi tentang narkoba, bisa
dipastikan akan banyak pemuda ingin tahu apa itu narkoba dan mungkin
mencobanya.
Terlepas dari sosialisasi memang
semua itu tergantung pada individu pemuda itu masing-masing. Tidak semua pemuda
buruk sikapnya. Ada sebagaian besar permuda yang juga berlaku baik.
Pemuda-pemuda itu seperti atlet muda bangsa yang terpelih karena skill dan bakat yang luar biasa. Para
pemuda inilah yang harus dicontoh. Tidak sedikit pula pemuda yang mengharumkan
nama bangsa lewat olahraga maupun akademik. Ini merupakan salah satu cara untuk meneruskan perjuangan bangsa
terdahulu.
Pemuda menguatkan golongan,
apakah itu bisa? Tentu bisa, apa yang tidak bisa oleh seorang pemuda?
Menghancurkan bangunan bisa, tauran bisa, mengerdarkan narkoba bisa, membunuh bisa,
melakukan kriminal bisa, apa lagi yang kurang?
Pemuda
itu kuat, sehingga untuk menguatkan golongan itu sangatlah mudah. Lempar uang
milik orang tua yang konglomerat, beli sana sini untuk kepentingan golongan
bisalah walau uang tidak tahu dari mana datangnya, suap sana sini untuk
menguatkan eksistensi golongan bisalah, toh uang mengalir dari bos mafia.
Ironis,
menyedihkan, itulah kata-kata yang layak kita ungkapkan untuk menggambarkan
kondisi pemuda saat ini. Banyak sekali masalah-masalah yang berkaitan dengan
pemuda. Diantaranya: Narkoba, Hedoneisme, Free Sex, Tawuran, Membebek budaya
barat, dan lain-lain.
Alih-alih
menjadi problem solver, pemuda saat
ini malah di hadapkan kepada label problem
maker yang tersemat kepadanya. Ya, pembuat masalah, dimanapun pasti
pemudalah yang membuat masalah dan kerusakan.
Pemuda
sebagai agen perubahan (agent of change)
seungguhnya memiliki posisi urgent
dalam menentukan arah haluan kemajuan umma dan bangsa. Pemuda memiliki banyak
sekali potensi, diantaranya;
·
Idealisme
yang tinggi.
·
Kritis
dan peka.
·
Kematangan
jasmani, akal dan perasaan.
·
Intelektualis.
·
Pemegang
tongkat estafet perubahan, dan masih banyak lagi.
Maka
dari itulah layak pemuda digolongkan sebagai subjek utama perubahan. Laksana
seorang nahkoda yang akan memegang kendali kapal untuk menentukan arah kemana
ummat dan bangsa ini. Untuk melakukan perubahan masyarakat dan negara di
tingkat lebih tinggi, maka pemuda juga harus
melakukan perubahan kepada diri sendiri. Tetapi bukan hanya itu ada
beberapa hal menurut diriku yang harus dimiliki dan dipraktekkan oleh pemuda
saat ini.
Pertama
bertaqwa, bertaqwa kepada sang Khalik memang menjadi kewajiban kita sebagai
seorang hamba, teramat sangat terkutuk diri kita bila tak mampu mengemban tugas
sebagai hamba yang bertawa. Mengerjakan seluruh perintah-Nya, menjauh segala
larangannya adalah tugas kita yang pertama.
Kedua
mandiri, tidak tergantung pada orang lain (berdiri di atas kaki sendiri) serta
bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan. Kemandirian disini meliputi:
kemandirian emosi (mampu mengendalikan emosi), kemandirian ekonomi, kemandirian
intelektual (mampu berinisiatif, kemandirian berpikir dan menciptakan
ide/gagasan), dan kemandirian sosial (mampu berinteraksi dengan orang lain
secara mandiri).
Ketiga
profesional, artinya mampu bekerja dengan ihsan dan itqan – tekun, kerja keras,
berdisiplin, dan memberikan hasil terbaik. Profesionalisme bisa dibangun dengan
memanfaatkan kompetensi, baik yang diperoleh dari pendidikan maupun dari
pengalaman.
Kelima
peduli, yakni mau melayani masyarakat, karena pemimpin sejatinya adalah pelayan
masyarakat. Keenam, berjiwa kepahlawanan, yakni rela berkorban tanpa pamrih,
berani, dan siap menjadi perubah, pelopor dan pemimpin.
Lalu apa yang harus
dilakukan oleh pemuda sesudah berbekal kelima hal di atas? Jawabannya tidak
lain adalah bergerak dan beramal, karena kita adalah generasi yang gemar
bekerja dan beramal. Semangat pemuda

Tidak ada komentar:
Posting Komentar