Sabtu, 30 Juni 2012

KETIKA PEMUDA MENGUATKAN GOLONGAN


   "Berikan aku 1000 anak muda maka aku akan memindahkan gunung, tapi berikan aku 10 pemuda yang cinta akan tanah air maka aku akan menguncang dunia," tutur Bung Karno, prolamator yang juga mantan presiden RI.
      Sengaja diriku mengutip kata-kata sang revolusioner sejati bangsa ini di awal paragraf, tidak lain hanya untuk menggebuhkan jiwa pemuda yang saat ini terserang virus galau (berada antara dua pilihan yang tidak jelas). Maaf sebelumnya, tidak semua pemuda terkena virus ini, tapi kebanyakan ia. Mengapa ini bisa terjadi?
      Saat ini sangat jarang kita temukan pemuda yang rela mengorbankan dirinya untuk bangsa dan negara, buktinya saja bukannya memelihara sarana dan prasarana yang bersifat umum, melainkan merusaknya dengan semenah-menah. Bukannya memberi masukan dan sumbangsi untuk kemajuan bangsa, malah membuat kekacauan dengan tuntutan yang tidak terorganisir.
      Sebenarnya saya tidak menyalahkan pemuda, karena kalau saya menyalahkan mereka, maka saya juga salah, soalnya saya bagian dari pemuda itu. Tapi maukah kita mengaku pemuda, bila banyak orang yang menjuluki kita perusak, tukang rusuh, tukang tauran ataukah pemuda brutal. Kembali pada diri kita masing-masing.
      Sedikit menganalogikan, kata-kata yang dilontarkan Bung Karno di awal paragraf, sangat menyinggung pemuda saat itu, mengapa? lihat saja pemuda yang begitu berjasa di zaman perjuangan lalu, yang sampai saat ini dianggap tangguh dan sangat tanah airnya. hanya beberapa yang masuk kategori itu, apalagi kita yang saat ini kebanyakan acah tak acuh dan selalu menyombongkan diri.
      Masa yang diriku alami saat ini dinamakan masa muda, maklumlah diriku masih berumur 21 tahun. Masa muda adalah masa transisi dimana kita beradaptasi dari masa remaja ke masa pendewasaan. Jadi dimaklumi bila salah, tetapi jangan salah terus.
Pemuda menurutku adalah generasi yang akan melanjutkan tongkat estapet bangsa ini. Dengan visi dan misi negara indonesia yang bisa kita katakan harta karun negara yang harus ditampung dan didengarkan aspirasinya oleh semua orang.
      Biasanya pemikiran pemuda cenderung kritis, memiliki gagasan yang fresh, dan daya kretivitasnya sangat tinggi. Namun, karena emosi yang cenderung labil memungkinkan pemuda lebih gampang naik darah alias emosional.
      Apakah ini yang akan meneruskan bangsa ini? Diriku sangat respek dengan sebuah iklan rokok yang memperlihatkan betapa kurang dipercayanya seorang pemuda memimpin sebuah perusahaan. Kepercayaan untuk memimpin perusahaan sangat sulit diberikan kepada mereka yang sangat minim jam terbang, miskin pengalaman, dan kaya emosi.
      Apakah itu betul? Bagaimana dengan pemuda yang sudah memiliki pengalaman dan mampu meredam emosi yang tentunya mampu menduduki suatu jabatan? Tentu belum cukup, masih ada umur, umur kita belum cukup menduduki kursi jabatan itu. Yah lupakanlah mimpi itu.
      Menurut buku yang pernah aku baca berjudul Pemuda Berbicara karya Ero Herlambang, Secara ideal pemuda menurut beliau adalah seorang individu manusia yang telah memasuki masa produktif. Seorang pemuda biasanya sudah memiliki pendirian tersendiri tentang apa yang ada di sekitarnya. Dengan kata lain, pemuda adakn bereaksi jika ada yang aneh pada lingkunganya.
      Melihat kondisi hari ini, dengan zaman yang lebih memalaskan kita untuk bergerak dan berfikir, masih sanggupkah kita seideal itu? Karena yang ada hari ini menjebak kita untuk hidup komsumtif, berego yang tinggi, tidak memikirkan sosial sekitar, bahkan terjerumus dalam dunia global yang kurang siap kita hadapi.
      Pemuda zaman sekarang kurang mendapatkan sosialisasi tentang globalisasi dan pergaulan. Kurang kuatnya sosialisasi akan rasa ingin mencoba dari seorang pemuda semakin kuat. Contohnya saja tentang narkoba, jika tidak adanya sosialisasi tentang narkoba, bisa dipastikan akan banyak pemuda ingin tahu apa itu narkoba dan mungkin mencobanya.
      Terlepas dari sosialisasi memang semua itu tergantung pada individu pemuda itu masing-masing. Tidak semua pemuda buruk sikapnya. Ada sebagaian besar permuda yang juga berlaku baik. Pemuda-pemuda itu seperti atlet muda bangsa yang terpelih karena skill dan bakat yang luar biasa. Para pemuda inilah yang harus dicontoh. Tidak sedikit pula pemuda yang mengharumkan nama bangsa lewat olahraga maupun akademik. Ini merupakan salah satu cara untuk meneruskan perjuangan bangsa terdahulu.
      Pemuda menguatkan golongan, apakah itu bisa? Tentu bisa, apa yang tidak bisa oleh seorang pemuda? Menghancurkan bangunan bisa, tauran bisa, mengerdarkan narkoba bisa, membunuh bisa, melakukan kriminal bisa, apa lagi yang kurang?
Pemuda itu kuat, sehingga untuk menguatkan golongan itu sangatlah mudah. Lempar uang milik orang tua yang konglomerat, beli sana sini untuk kepentingan golongan bisalah walau uang tidak tahu dari mana datangnya, suap sana sini untuk menguatkan eksistensi golongan bisalah, toh uang mengalir dari bos mafia.
Ironis, menyedihkan, itulah kata-kata yang layak kita ungkapkan untuk menggambarkan kondisi pemuda saat ini. Banyak sekali masalah-masalah yang berkaitan dengan pemuda. Diantaranya: Narkoba, Hedoneisme, Free Sex, Tawuran, Membebek budaya barat, dan lain-lain.
Alih-alih menjadi problem solver, pemuda saat ini malah di hadapkan kepada label problem maker yang tersemat kepadanya. Ya, pembuat masalah, dimanapun pasti pemudalah yang membuat masalah dan kerusakan.
Pemuda sebagai agen perubahan (agent of change) seungguhnya memiliki posisi urgent dalam menentukan arah haluan kemajuan umma dan bangsa. Pemuda memiliki banyak sekali potensi, diantaranya;
·         Idealisme yang tinggi.
·         Kritis dan peka.
·         Kematangan jasmani, akal dan perasaan.
·         Intelektualis.
·         Pemegang tongkat estafet perubahan, dan masih banyak lagi.
Maka dari itulah layak pemuda digolongkan sebagai subjek utama perubahan. Laksana seorang nahkoda yang akan memegang kendali kapal untuk menentukan arah kemana ummat dan bangsa ini. Untuk melakukan perubahan masyarakat dan negara di tingkat lebih tinggi, maka pemuda juga harus  melakukan perubahan kepada diri sendiri. Tetapi bukan hanya itu ada beberapa hal menurut diriku yang harus dimiliki dan dipraktekkan oleh pemuda saat ini.
Pertama bertaqwa, bertaqwa kepada sang Khalik memang menjadi kewajiban kita sebagai seorang hamba, teramat sangat terkutuk diri kita bila tak mampu mengemban tugas sebagai hamba yang bertawa. Mengerjakan seluruh perintah-Nya, menjauh segala larangannya adalah tugas kita yang pertama.
Kedua mandiri, tidak tergantung pada orang lain (berdiri di atas kaki sendiri) serta bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan. Kemandirian disini meliputi: kemandirian emosi (mampu mengendalikan emosi), kemandirian ekonomi, kemandirian intelektual (mampu berinisiatif, kemandirian berpikir dan menciptakan ide/gagasan), dan kemandirian sosial (mampu berinteraksi dengan orang lain secara mandiri).
Ketiga profesional, artinya mampu bekerja dengan ihsan dan itqan – tekun, kerja keras, berdisiplin, dan memberikan hasil terbaik. Profesionalisme bisa dibangun dengan memanfaatkan kompetensi, baik yang diperoleh dari pendidikan maupun dari pengalaman.
Kelima peduli, yakni mau melayani masyarakat, karena pemimpin sejatinya adalah pelayan masyarakat. Keenam, berjiwa kepahlawanan, yakni rela berkorban tanpa pamrih, berani, dan siap menjadi perubah, pelopor dan pemimpin.
Lalu apa yang harus dilakukan oleh pemuda sesudah berbekal kelima hal di atas? Jawabannya tidak lain adalah bergerak dan beramal, karena kita adalah generasi yang gemar bekerja dan beramal. Semangat pemuda

Tidak ada komentar: