MAKASSAR -- Apa yang membuat dirimu, dirinya, dan semua orang beranggapan bahwa Makassar itu kasar? Apakah dirimu, dirinya, dan semua orang yang menganggap Makassar itu kasar, pernah hinggap sejenak saja di kota anging mamiri? Lantas darimana wahai kalian, bisa beranggapan seperti itu? Saya bersumpah! Makassar tidak kasar.
Media layaknya panggung tak bersalah, yang kadang menjadi tempat berebut tahta kekuasaan. Siapa yang mampu menguasai media, dialah sang "penguasa dunia". Mungkin tidaklah berlebihan, tapi inilah kenyataannya. Sedikit demi sedikit semua itu akan terwujudkan. Dan siapa yang akan menjadi tumbal? Tidak lain adalah rakyat.
Tergambar jelas dalam benak banyak orang, akan sebuah kota kasar yang berakar. Semakin kasar, semakin buruk dan tak terlupakan hingga akhir hayat. Saya pun kaget dibuatnya. Suatu ketika, Aku berkunjung ke beberapa kota di pulau Jawa, Sumatra, dan Bali. Yah tujuannaya untuk mengikuti lomba karya tulis dan video tingkat nasional. Kebetulan saya senang menulis, dan Alhamdulillah bisa lolos dan berkesempatan mempresentasikan karya di beberapa universitas di tiga pulau tersebut.
Apa daya, Aku berlatar belakang mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang dikenal "anarkis" oleh media, suka tauran, bakar sana sini, membuat sekelilingku takut dan segan untuk bertutur kata, seraya menyapa akrab layaknya saudarah. Hingga Aku mengerti, aku harus menegur duluan, inilah pengorbanan.
Sungguh frontal, mereka silih berganti menanyakan, Kenapa mahasiswa Makassar sering tauran? Kenapa mahasiswa sering membakar kampusnya sendiri, bahkan membunuh kawannya yang ternyata sesama rumpun akademik? Tidak cukup sampai di situ saja, pusaka budaya yang menjadi ciri khas kota daeng yakni badik seakan menjadi bayang-bayang ketakutan mereka.
Ada apa ini? Mengapa mereka berifikir seperti itu? Malu dan tertunduk, mungkin itu yang aku alami, lantas satu hal yang membuatku memberanikan diri untuk bertanya balik. Dalam diriku mengalir darah Makassar asli, dan aku bersumpah! Makassar tidak kasar.
Darimana informasi yang mereka dapatkan sehingga opini yang berkembang dalam masyarakat bahwa Makassar itu kasar? Dengan polosnya mereka menjawab, "Dari media, ia dari media elektronik, cetak dan internet," serunya.
Lantas, apakah aku harus marah dan kesal dengan media yang telah menyebar informasi itu? Hahaha, Tidaklah kawan, aku hanya miris, kadang media tidaklah objektif dalam memilih berita, kadang berat sebelah, yah hal negatif saja yang terus diumbar, mana prestasi positif yang layak di ekspos? apakah memang peranmu (media) seperti itu?
Yang aku tahu, media itu memberikan nilai edukatif bagi penikmatnya, memberi informasi dan hiburan bagi penontonnya, kuat dalam mengemban tanggung jawab sebagai kontrol sosial, terutama para penguasa. Lantas, mengapa beberapa media, terutama televisi begitu bernafsu menayangkan hal negatif kotaku (Makassar), tatkala prestasi mencuat, mereka tak menyentuh sedikitpun.
Mereka tidak salah, nilai berita yang membuat kebanyakan media mengekspose tanpa ampun kejadian-kejadian yang berujung konflik. Rating yah menjadi salah satu patokan untuk mendapatkan modal dari para pengiklan, lantas apakah karena itu, deskriminasi dalam hal pemberitaan membuat satu daerah menjadi korban persepsi nengatif?
Wahai kawan-kawan, aku bersumpah Makassar tidak kasar. Teman-teman yang kujumpai kini sadar, dengan beberapa penjelasan diriku terhadapnya. Mereka yang awalanya segan, mulai berbaur. Hal yang membuatku terkesan dikala mereka berucap. "Ohh ternyata orang Makassar baik-baik yah, memang sih media kadang keterlaluan, tapi sekarang aku tahu bagaimana orang Makassar".
Sejenak, bukalah matamu kawan, melek media kadang dibutuhkan untuk mencari kebenaran. Bukan hanya duduk diam hingga ongkang-ongkang kaki di atas sofa empuk sembari memutar menonton TV dan menelan bulat-bulat informasi dan berita yang kadang diagenda settingkan. Anda cerdas, dan saya yakin Anda takkan menyimpulkan secepat mata berkedip.
Sumpah! Makassar tidak kasar, camkan itu baik-baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar