Setahun lalu, Amiruddin temanku bercerita kala dia ke Apparalang, Bulukumba. Sarjana hukum itu, hampir jatuh ke jurang, pasca melintasi jalan menurunan dengan kemiringan 150 derajat dan jalan yang kurang baik.
Bayangkan, kendaraan harus siap-siap mengerem di atas jalan tak mulus, banyak batu kecil-kecil bukan krikil, tetapi mirip batu yang dimainkan pada permainan kecilku dulu, santo. Tidak sampai situ, jalan dipenuhi pasir, membuat ban slip dan rawanlah kecelakaan.
Tetapi itu dulu, belum cukup seminggu saya kesana. Jalan sudah mulai membaik. Namun, hanya 2/3 belum seluruhnya. Mungkin sudah tak lama lagi semuanya dipebaiki 100 persen, amin ya Allah. Lokasi Apparalang mudah ditemukan. Apalagi papan petunjuk ada kok. Warna biru dengan warna karakter biru. Berkendara dengan motor lbh mudah. Di GPS, jaraknya 30-an km dengan waktu tempuh 55 menit. Yah lebih dekatlah dari Bira. Tetapi kenyataannya, yah krn jalan yang dilewati itu sedikit ekstrem makanya wkt tepuhnya agak lama. Santai sajalah, yang penting selamat sampai tujuan. Sesampai disana, ada pos pemberhentian. Setiap orang dikenakan biaya msk Rp5 ribu. Cukup terjangkaulah, dengan keindahan yang dilihat. Tmpt parkir hanya dipisahkan bambu-bambu. Bertuliskan motor dan mobil Sampah masih banyak berserekan, hal lucu saat msk, biaya Rp5 ribu itu untuk perbaikan akses jalan. Ohhh, apakah pemda tidak menganggarkan dana untuk perbaikan akses wisata ini? Yah sudahlah, orang mau liburan juga... Memarkir motor, lalu melangkah ke tujuan. Ada pembatas kendaraan dari balok kayu bergambarkan logo setop. Samping kiri kanan terlihat pedagang yang menjajakan pakaian, makanan, dan oleh2 khas berupa kalung, gelang, anting, dan gantungan kunci. Sayang, letaknya tak beraturan. Masuk ke pinggir pantai, lokasi cukup bersih. Derai ombak bgitu terdengar, biru lautan memanja mata. Angin laut meneduhkan hati. Ku beranikan ke bawah dengan menuruni anak tangga yang begitu panjang. Setibanya, ku pejamkan mata, ku tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Kala Ku buka mata, inilah ciptaan Tuhan, begitu indahnya dunia.
Bayangkan, kendaraan harus siap-siap mengerem di atas jalan tak mulus, banyak batu kecil-kecil bukan krikil, tetapi mirip batu yang dimainkan pada permainan kecilku dulu, santo. Tidak sampai situ, jalan dipenuhi pasir, membuat ban slip dan rawanlah kecelakaan.
Tetapi itu dulu, belum cukup seminggu saya kesana. Jalan sudah mulai membaik. Namun, hanya 2/3 belum seluruhnya. Mungkin sudah tak lama lagi semuanya dipebaiki 100 persen, amin ya Allah. Lokasi Apparalang mudah ditemukan. Apalagi papan petunjuk ada kok. Warna biru dengan warna karakter biru. Berkendara dengan motor lbh mudah. Di GPS, jaraknya 30-an km dengan waktu tempuh 55 menit. Yah lebih dekatlah dari Bira. Tetapi kenyataannya, yah krn jalan yang dilewati itu sedikit ekstrem makanya wkt tepuhnya agak lama. Santai sajalah, yang penting selamat sampai tujuan. Sesampai disana, ada pos pemberhentian. Setiap orang dikenakan biaya msk Rp5 ribu. Cukup terjangkaulah, dengan keindahan yang dilihat. Tmpt parkir hanya dipisahkan bambu-bambu. Bertuliskan motor dan mobil Sampah masih banyak berserekan, hal lucu saat msk, biaya Rp5 ribu itu untuk perbaikan akses jalan. Ohhh, apakah pemda tidak menganggarkan dana untuk perbaikan akses wisata ini? Yah sudahlah, orang mau liburan juga... Memarkir motor, lalu melangkah ke tujuan. Ada pembatas kendaraan dari balok kayu bergambarkan logo setop. Samping kiri kanan terlihat pedagang yang menjajakan pakaian, makanan, dan oleh2 khas berupa kalung, gelang, anting, dan gantungan kunci. Sayang, letaknya tak beraturan. Masuk ke pinggir pantai, lokasi cukup bersih. Derai ombak bgitu terdengar, biru lautan memanja mata. Angin laut meneduhkan hati. Ku beranikan ke bawah dengan menuruni anak tangga yang begitu panjang. Setibanya, ku pejamkan mata, ku tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Kala Ku buka mata, inilah ciptaan Tuhan, begitu indahnya dunia.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar