Muhammad Zulfikar temanku, ternyata baru kali pertama menapakan kaki di pantai terindahnya Sulsel ini. Pandawa di Bali, lewat..!!! Ia sangat gembira kala berlibur dan mengabiskan wktu malam di Bira.
Letaknya paling ujung selatan pulau Sulawesi.
Dari kota, berjarak 30-an km, waktu yang ditempuh sejam lewatlah. Jalannya mulus tanpa hambatan. Bagi yang perjalanan jauh, tidak usah khawatir, ada penginapan mulai Rp100 rb-Rp1 juta lebih. Sebelum ke kawasan pantai Bira, bayar Rp15 ribu dulu satu orang. Keindahan Pantai Bira tak dibarengi langkah jitu pemda dan masyarakat sekitar.
Promosi dan kelola Bira yang kurang baik sangat terasa, maka bermimpilah bila ingin mengalahkan ketenaran Kutanya Lombok Selatan dan Kutanya Badung di Bali. Pantai apa yang mengalahkan halusnya pasir pantai Bira?,Pantai apa yang mengalahkan kejernihan dan pemandangan indah pantai Bira?
Sayang, sampah berserakan di mana-mana, pedagang di pinggir pantai tak tertata, keberadaan kapal2 yang hendak ke sebrang pulau menganggu wisatawan untuk berenang menikmati air laut, tawaran pemilik kapal yang menganggu ketenangan pengunung, akses jalan bagus tapi kurang diperindah, pembangunan penginapan yang sembrawut, dan keamanan yang masih lemah. PR besar untuk pemda. Bira jadi pos kelima kami.
Malam terasa cepat kala itu, dikala bepergian kesana-kemari membuat badan pegal. Alhamdulillah saya dapat penginapan murah Rp150 ribu semalam. Kamarnya ada AC, TV, kamar mandi. Kata yang punya, harga normal Rp300 rbu, tetapi negosiasi yang alot sehingga kita dapat harga setengahnya. Sungguh nikmat utk Rihat, apalagi sudah memakan semangkuk coto Makassar dan sepiring nasi di depan pelabuhan Bira.
Amir tiga mangkuk coto dan dua piring nasi, Fikar dua mangkuk coto dua piring nasi. Teh panas jd penutup keletihan. Keesokan harinya, baru merasakan sensasi air laut pantai Bira. Sungguh dingin, maklum ba'da Subuh kami sudah mandi, setelahnya mencari sarapan, seruput kopi susu panas membuat dingin lenyap sesaat. Sungguh mengasikkan liburan kala itu. #Liburan #KeBulukumbaDeh #AmankanLorong #MinusAmmar #bersambung
Dari kota, berjarak 30-an km, waktu yang ditempuh sejam lewatlah. Jalannya mulus tanpa hambatan. Bagi yang perjalanan jauh, tidak usah khawatir, ada penginapan mulai Rp100 rb-Rp1 juta lebih. Sebelum ke kawasan pantai Bira, bayar Rp15 ribu dulu satu orang. Keindahan Pantai Bira tak dibarengi langkah jitu pemda dan masyarakat sekitar.
Promosi dan kelola Bira yang kurang baik sangat terasa, maka bermimpilah bila ingin mengalahkan ketenaran Kutanya Lombok Selatan dan Kutanya Badung di Bali. Pantai apa yang mengalahkan halusnya pasir pantai Bira?,Pantai apa yang mengalahkan kejernihan dan pemandangan indah pantai Bira?
Sayang, sampah berserakan di mana-mana, pedagang di pinggir pantai tak tertata, keberadaan kapal2 yang hendak ke sebrang pulau menganggu wisatawan untuk berenang menikmati air laut, tawaran pemilik kapal yang menganggu ketenangan pengunung, akses jalan bagus tapi kurang diperindah, pembangunan penginapan yang sembrawut, dan keamanan yang masih lemah. PR besar untuk pemda. Bira jadi pos kelima kami.
Malam terasa cepat kala itu, dikala bepergian kesana-kemari membuat badan pegal. Alhamdulillah saya dapat penginapan murah Rp150 ribu semalam. Kamarnya ada AC, TV, kamar mandi. Kata yang punya, harga normal Rp300 rbu, tetapi negosiasi yang alot sehingga kita dapat harga setengahnya. Sungguh nikmat utk Rihat, apalagi sudah memakan semangkuk coto Makassar dan sepiring nasi di depan pelabuhan Bira.
Amir tiga mangkuk coto dan dua piring nasi, Fikar dua mangkuk coto dua piring nasi. Teh panas jd penutup keletihan. Keesokan harinya, baru merasakan sensasi air laut pantai Bira. Sungguh dingin, maklum ba'da Subuh kami sudah mandi, setelahnya mencari sarapan, seruput kopi susu panas membuat dingin lenyap sesaat. Sungguh mengasikkan liburan kala itu. #Liburan #KeBulukumbaDeh #AmankanLorong #MinusAmmar #bersambung






Tidak ada komentar:
Posting Komentar